Kholid saputra

jika anda berhenti berharap, maka saya akan ajarkan kepada anda bagaimana berkeinginan


Leave a comment

Etika Guru Terhadap Atasan

BAB I

PENDAHULUAN

Kepala sekolah sebagai atasan bertanggung jawab untuk mengembangkan bawahannya (guru). Tanggung jawab terbesar untuk mengembangkan tenaga kependidikanlah berada ditangan kepala sekolah, hal ini sangat penting sebab hanya dengan pertumbuhan jabatan tenaga kependidikan maka tujuan daripada lembaga yang dipimpin akan lebih mudah dilealisir.
Oleh sebab tanggung jawab kepala sekolah sangat lah besar terhadap guru semestinyalah seorang guru mempunyai etika yang baik terhadap atasannya yang dapat dikategorikan juga adalah kepala sekolah disamping atasan–atasan yang lain.

Dalam ajaran islam menyatakan bahwa pada dasarnya pemimpin dan setiap pemimpin akan diminta pertanggungjawabannya. Kewajiban bagi bawahannya / guru menjadi hak-hak bagi pemimpinnya. Sebagaimana yang dijelaskan ke dalam al-qur’an dan sunnah. Karena selain taat kepada atasan kita hendaknya juga harus taat dan patuh terhadap rasul dan Allah.

Guru yang baik adalah guru yang disiplin yaitu guru yang berakhlak, apabila kita menjadi guru hendaklah kita saling hormat menghormati, baik dia antara guru dengan siswa, guru dengan guru, guru dengan tata usaha, guru dengan kepala sekolah dan guru dengan masyarakat. Untuk lebih jelasnya pemakalah menguraikan pada pembahasan berikut.

BAB II

PEMBAHASAN

A. Pengertian Kode Etik

Kode etik tenaga kependidikan adalah pedoman sikap tingkah laku dan perbuatan semua tenaga kependidikan yang terlibat dalam bidang pendidikan dalam melaksanakan tugasnya dan dalam pergaulan hidup sehari – hari.

Kepala Sekolah sebagai atasan guru di dalam sebuah lembaga sekolah, hendaknya guru menjaga etika moral sebagai berikut:

  1. Guru Wajib Menghormati Hirarki Jabatan

Yaitu yang pada dasarnya tetap ada starata, tetapi masih tetap menghargai pandangan atau tetap menjalankan demokrasi didalam pertemuan – pertemuan artinya setiap anggota diberi kebebasan untuk mengeluarkan pendapatnya dalam pertemuan atau rapat. Sehingga pada waktu diadakan rapat tidak ada klasifikasi tentang pandangan atau pendapat itu dari siapa.
Dan kode etik jabatan guru pada umumnya:

  1. Untuk mencapai tujuan sebagaimana yang termaktub dalam preambule, yaitu brkepribadian, berilmu, serta trampil didalam melaksanakan tugasnya.
  2. Guru adalah setiap orang yang bertugas dan berwenang dalam dunia pendidikan dan pengajaran pada lembaga pendidikan formal.
  3. Untuk melaksanakan tugasnya, maka prinsip tentang tingkah laku yang diinginkan dan diharapkan oleh setiap guru dalam jabatannya terhadap orang lain dalam semua situasi pendidikan adalah berjiwa pancasila, berilmu pengetahuan serta trampil dalam menyampaikannya, yang dapat dipertanggungjawabkan secara didaktis dan metodis sehingga tujuan pendidikan dapat dicapai.
  4. Berdasarkan prinsip – prinsip umum di atas,maka petunjuk – petunjuk yang merupakan tata cara akhlak itu wajib diamalkan oleh setiap guru dalam antar hubungan dengan manusia lain dalam lingkungan jabatannya.
  5. Guru wajib menyimpan rahasia jabatan, hal – hal yang dikategorikan dalam rahasia jabatan antara lain: Sesuatu hal yang bertalian dengan dinas, yang telah dibicarkan dengan rapat guru/ rapat panitia ujian, yang harus dirahasiakan, diteruskan kepada siswa – siswa/ orang lain untuk memenuhi keinginan untuk mengetahui, seperti:
    1. Soal – soal ujian
    2. Soal – soal/ problema staf yang sifatnya tak boleh diketahui umum.
    3. Keadaan murid – murid terutama yang tak boleh disebarluaskan kepada umum. Dalam pelaksanaan sehari – harinya misalnya seorang guru tidak boleh menyebut terhadap murid lainnya tentang kekurangan – kekurangan yang dialami oleh seorang murid. Guru harus mengayomimuridnya dan harus bertindak bijaksana terhadap setiap anak didiknya.
  6. Setiap saran dan kritik kepada atasan harus diberikan melalui prosedur dan forum yang semestinya.Para karyawan/ guru diberi kebebasan dan karenanya mempunyai tanggung jawab. Organisasi sekolah, program kerja, usaha kesejahteraan ditentukan bersama oleh seluruh kepala sekolah dan para guru sekolah.hal itu semua dibicarakan dalam rapat dewan guru.
  7. Jalinan hubungan antara guru dan atasan hendaknya selalu diarahkan untuk meningkatkan mutu dan pelayanan pendidikan yang menjadi tanggung jawab bersama.

B. Etika Guru Terhadap Atasannya

Kepemimpinan adalah suatu kegiatan dalam membimbing suatu kelompok sedemikian hingga / rupa sehingga tercapai tujuan dari kelompok itu yaitu tujuan bersama. Pengertian umum kepemimpinan adalah kemampuan dan kesiapan yang dimiliki seseorang untuk dapat mempengaruhi, mendorong, mengajak, menuntun, menggerakkan dan kalau perlu memaksa orang lain agar ia menerima pengaruh itu. Selanjutnya berbuat sesuatu yang dapat membantu pencapaian suatu maksud atau tujuan tertentu.

Menurut Drs. Mardjiin Syam, dalam bukunya kepemimpinan dalam organisasi menyatakan keseluruhan tindakan guna mempengaruhi serta menggiatkan orang dalam usaha bersama untuk mencapai tujuan atau dengan defenisi yang lebih lengkap dapat dikatakan bahwa kepemimpinan adalah proses pemberian jalan yang mudah (fasilitas) dari pada pekerjaan orang lain yang terorganisir dalam organisasi fromal guna mencapai tujuan yang telah ditetapkan[1]

Sedangkan menurut Prof. Dr. Sarwono Prawiroharjo mengemukakan “orang baru dapat dinamakan pemimpin bila berhasil menumbuhkan pada bawahanya perasaan ikut serta, ikut bertanggungjawab terhadap pekerjaan yang sedang diselenggarakan di bawah pimpinannya. Dari pendapat-pendapat itu ada beberapa unsur-unsur yang menjadi dasar seorang itu dinyatakan sebagai pemimpin yaitu :

  1. Mampu mempengaruhi orang
  2. Mampu menumbuhkan perasaan ikut serta
  3. Bertanggungjawab

Ajaran islam menyatakan bahwa setiap individu itu pada hakikatnya adalah pemimpin dan setiap pemimpin akan diminta pertanggungjawabannya. Oleh karena itu, kita sebagai bawahannya sangatlah penting dan berpengaruh terhadap atasan (pemimpin). Adapun kode etik yang perlu kita terapkan terhadap atasan (pemimpin) adalah sebagai berikut :

  1. Bersifat harga menghargai atau menghormati atas keputusannya
  2. Bersifat toleran
  3. Tolong menolong
  4. Lemah Lembut
  5. Pemaaf, tidak menghina / melecehkannya.
  6. Sabar, tidak mudah marah karena hal-hal kecil.
  7. Tidak merasa rendah hati
  8. Bersifat tenang apabila kita mendapat masalah ataupun tugas yang diberikan atasan (pemimpin).[2]
  9. dan lain-lain.

Secara langsung kewajiban seorang pemimpin terhadap bawahannya adalah menjadi hak penuh bagi rakyat (bawahan) itu sendiri, dan kewajiban bawahan menjadi hak bagi pemimpinnya. Oleh karena itu, penulis ingin menjelaskan hak-hak pemimpin yang menjadi kewajiban terhadap bawahannya seperti yang dituntun oleh al-Qur’an dan Sunnah. Pada prinsipnya, kewajiban rakyatnya (bawahan) yang menjadi hak bagi pemimpinnya ialah menaati dan mengikuti pemimpinnya. Hal ini jelas diungkapkan Allah melalui ayat berikut :

Artinya : “Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, Maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.”( QS. An-nisa : 59)

Hal ini menunjukkan bahwa ketaatan kepada Allah tidak sempurna jika tidak diiringi dengan ketaatan kepada Rasul, ketaatan kepada Allah dan Rasul juga belum sempurna jika tidak dibarengi dengan ketaatan kepada pemimpin yang sah. Dengan kata lain mentaati pemimpin berarti mentaati Allah dan Rasul-Nya. Sebaliknya mendurhakai dan menentang pemimpin sama dengan mendurhakai dan menentang Allah. Orang yang mendurhakai pemimpin sama jeleknya dengan mendurhakai Allah. Orang yang mendurhakai pemimpin Rasul sama dengan mendurhakai Allah. Natijahnya ialah menentang pemimpin berarti menentang Allah.

Menurut keterangan yang diperoleh dari hadits-hadits rasulullah, paling tidak ada dua persyaratan kewajiban mentaati pemimpin :

  1. Pemimpin yang ditaati itu adalah pemimpin yang legal (sah)
  2. Pemimpin yang taat beragama dan setia kepada aturan agama.

Dalam penyampaiannya, seorang muslim tetap dituntut supaya tidak menyalahi kardinir agama. Oleh sebab itu, kita sebagai bawahan haruslah bisa untuk tidak mengeluarkan kata-kata kotor, penghinaan, penghajatan dan yang melecehkan hak-hak asasi orang lain. Karena menghina dan melecehkan pemimpin adalah sikap dan perbuatan yang tidak moral dan bahkan bukan perbuatan seorang muslim, meskipun apa yang disampaikan itu adalah benar.[3]

Sebagai bawahan haruslah menjaga etika ataupun hubungan yang baik karena sesungguhnya kode etik guru itu sesungguhnya merupakan pedoman yang mengatur hubungan guru dengan teman sejawat, peserta didik, orang tua peserta didik, pimpinan, masyarakat dan dengan misi tugasnya. Etika hubungan guru dengan teman sejawat menuntut prilaku yang kooperatif, mempersoalkan dan saling mendukung.[4]

Adapun hubungan guru dengan atasannya adalah sebagai berikut :

  1. Guru wajib melaksanakan perintah dan kebijaksanaan atasannya
  2. Guru wajib menghormati hirarki
  3. Guru wajib menyimpan rahasia jabatan
  4. Setiap saran dan kritik kepada atasan harus diberikan melalui prosedur dan forum yang semestinya.
  5. Jalinan hubungan antara guru dengan atasan hendaknya selalu diarahkan untuk meningkatkan mutu dan pelayanan pendidikan yang menjadi tanggung jawab bersama.[5]

Etika hubungan dengan pemimpin di sekolah menuntut adanya saling mempercayai guru percaya bahwa pimpinan sekolah memberi tugas yang dapat dikerjakannya dan setiap pekerjaan yang dilakukan pasti ada imbalannya, paling tidak di akhirat kelak. Sebaliknya pemimpin sekolah/madrasah mempercayakan suatu tugas kepada guru karena keyakinannya bahwa guru tersebut akan mampu melaksanakannya sebaik mungkin. Dalam hubungan guru dengan pemimpin tersebut yang terpenting adalah tanggung jawab dari kedua belah pihak atas konsekuensi dari beban kerja itu. Yang harus diterima guru dari pimpinan sekolah adalah tugas kependidikan. Kalau dalam pelaksanaan tugas ada masalah tertentu perlu konsultasi, manakala tugas telah dilaksanakan, guru memberi laporan. Jadi, isi utama hubungan guru dengan pimpinan sekolah adalah penerimaan pemberian tugas.[6]

Sebagai salah seorang anggota organisasi, baik organisasi guru maupun organisasi yang lebih besar guru akan selalu berada dalam bimbingan dan pengawasan pihak atasan. Dari organisasi ada strata kepemimpinan mulai dari pengurus cabang, daerah, sampai ke pusat, begitu juga sebagai anggota keluarga besar depdikbud, ada pembagian pengawasan mulai dari kepala sekolah, kakandep, dan seterusnya. Agar dapat memberikan layanan yang memuaskan masyarakat atau guru. Pemimpin ataupun atasan harus selalu dapat menyesuaikan kemampuan dan pengetahuannya dengan keinginan dan permintaan masyarakat[7

BAB III

PENUTUP

Kesimpulan

Dari uraian di atas penulis dapat menyimpulkankannya, bahwa kepemimpinan adalah merupakan kemampuan dan kesiapan yang dimiliki seseorang untuk dapat mempengaruhi, mendorong, mengajak, menuntun, menggerakkan dan kalau perlu memaksa orang lain agar ia menerima pengaruh itu. Adapun unsur yang menjadi dasar seorang itu dinyatakan sebagai pemimpin yaitu :

  1. Mampu mempengaruhi orang
  2. Mampu menumbuhkan perasaan ikut serta
  3. Bertanggungjawab.

Adapun etika guru terhadap atasannya adalah bersifat harga menghargai, menghormati / menaati, toleran, tolong menolong, lemah lembut, sabar, tidak merasa rendah hati dan tenang apabila kita menghadapi masalah, dan lain-lain.

DAFTAR PUSTAKA

Hendiyat Soetopo dan Wasty Sumanto, Kepemimpinan dan Supervisi Pendidikan, (Jakarta : PT Bina Aksara, 1984),

Fachruddin, Administrasi Pendidikan, (Bandung  : Cita Pustaka Media, 2001)

Ruhman Ritonga, Akhlak Merakit Hubungan Dengan Sesama Manusia, (Surabaya : Amelia, 2005)

Abi Syamsuddin dan Nandang Budiman, Profesi Keguruan 2, (Jakarta : Universitas Terbuka, 2007)

Zulhimma, Diktat Profesi Keguruan, (Padangsidimpuan : STAIN, tth)

Soetjipto dan Raflis Kosasi, Profesi Keguruan, (Jakarta : PT Rineka Cipta, 1999)

http://karyariandiardika.blogspot.com/2011/02/etika-guru-terhadap-atasan-dan-pegawai.html

http://andasayabisa.blogspot.com/2012/06/etika-guru-terhadap-atasan-pemimpin.html


[1] Hendiyat Soetopo dan Wasty Sumanto, Kepemimpinan dan Supervisi Pendidikan, (Jakarta : PT Bina Aksara, 1984), hlm. 1-3.

[2] Fachruddin, Administrasi Pendidikan, (Bandung  : Cita Pustaka Media, 2001), hlm. 77.

[3] Ruhman Ritonga, Akhlak Merakit Hubungan Dengan Sesama Manusia, (Surabaya : Amelia, 2005), hlm. 137-141.

[4] Abi Syamsuddin dan Nandang Budiman, Profesi Keguruan 2, (Jakarta : Universitas Terbuka, 2007), hlm. 413

[5] Zulhimma, Diktat Profesi Keguruan, (Padangsidimpuan : STAIN, tth), hlm. 18.

[6] Ibid., hlm. 4.14-4.15.

[7] Soetjipto dan Raflis Kosasi, Profesi Keguruan, (Jakarta : PT Rineka Cipta, 1999), hlm. 52-53.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.